PENUH RASA SYUKUR DALAM KEHIDUPAN

Renungkanlah Sahabat…

Seringkali kita menemukan sebuah fenomena yang menarik untuk diperhatikan.
Dimana tidak sedikit orang yng mengeluh tentang pekerjaannya. Alasannya
pun beragam macam.
Ada yang soal gaji rendah.
Teman yang tidak bersahabat.
Atasan yang pilih kasih.
Karir yang tidak naik-naik.
Dan seribu satu alasan lainnya.

Makanya, tidak heran jika setiap pagi rasanya berat sekali untuk berangkat
ke kantor. Kalo dulu dikenal istilah ” I don’t like Monday “, sekarang
berubah menjadi ” I don’t like everyday “.

Setelah tiba di kantor juga tidak bersungguh-sungguh mencurahkan seluruh
kemampuan. Datang kesiangan, pulang kegesitan. Seakan-akan kita ini tidak
membutuhkan pekerjaan itu. Sekarang, coba bayangkan; bagaimana seandainya
besok pagi kita kehilangan pekerjaan itu? Apakah hidup Anda akan tetap
baik-baik saja? Hmmmh, barangkali ini adalah saat yang tepat untuk kembali
mensyukuri pekerjaan yang saat ini kita miliki.
Sudahkah kita mensyukuri pekerjaan pagi ini?

Kehidupan kerja kita tidak selamanya menyenangkan. Kadang kita dimarahi
pelanggan. Kadang diomeli atasan. Kadang dijegal oleh teman. Dan masih
banyak situasi sulit lainnya yang bisa menimbulkan kekecewaan. Kita sering
keliru melampiaskan kekesalan dengan membenci pekerjaan.

Padahal, semakin benci kita pada pekerjaan, semakin memburuklah keadaannya.
Semakin memburuk keadaannya, semakin jauhlah kita dari rasa syukurnya.
Semakin jauh dari rasa syukur? Semakin benci kita pada pekerjaan.

Dan terjebaklah kita dalam kegelisahan tanpa ujung. Maka, tidak ada
pilihan lain selain menysukuri pekerjaan yang kita miliki. Karena rasa
syukur, membimbing kita untuk menemukan makna terdalam dari pekerjaan.
Memang mudah untuk dikatakan, tapi bersyukur itu sungguh tidak gampang
untuk dilakukan.

Kita butuh pemahaman yang tepat tentang makna syukur itu bagi hidup kita.
Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar memahami makna rasa syukur
pada pekerjaan, saya ajak memulainya dengan memahami 5 prinsip Natural
Intellligence berikut ini:

1. Rasa syukur menentukan kebahagiaan. Rasa syukur kepada pekerjaan adalah
obat yang paling mujarab untuk menyembuhkan setiap kekecewaan. Seberat
apapun beban pekerjaan yang kita hadapi, pasti akan terasa ringan jika
kita memiliki rasa syukur yang lebih besar dari beban itu.

Sebaliknya, seenak apapun suasana dan imbalan yang dapatkan dari pekerjaan
kita; maka kita akan tetap mengeluhkannya jika rasa syukur kita atas semua
kenikmatan kerja itu terlalu kecil untuk menghidupkan lentera nikmat dalam
hati kita.

Makanya, banyak orang dengan kedudukan dan imbalan tinggi yang masih
mengeluhkan pekerjaannya. Dan banyak orang yang pekerjaannya bejibun namun
tetap gembira meski bayarannya ‘tidak seberapa’. Keluhan bukanlah monopoli
orang-orang berkedudukan rendah. Kegembiraan juga bukan monopoli mereka
yang jabatannya tinggi.

Malah kita sering menyaksikan hal yang sebaliknya. Jika kita tidak kunjung
bahagia dengan kehidupan kerja, mungkin kita perlu bersyukur lebih banyak
lagi. Mengapa? Karena rasa syukur pada pekerjaan sangat menentukan apakah
kita bahagia dengan pekerjaan itu atau tidak.

2. Rasa syukur memberi ketabahan. Jika boleh memilih, apakah kita lebih
menyukai pekerjaan yang berat secara fisik, atau berat tanggungjawabnya?
Normalnya, orang-orang berpendidikan tinggi tidak menyukai pekerjaan fisik
yang berat. Meski tidak terlalu suka pada tanggungjawab yang berat, tetapi
itu adalah pilihan terbaiknya.

Pekerjaan fisik itu melelahkan dan imbalannya rendah. Sedangkan
tanggungjawab besar pada pekerjaan non fisik diimbangi dengan ruang kerja
yang nyaman nyaris tanpa keringat, pakaian perlente, dan tentunya; bayaran
yang jauh lebih tinggi.

Maka, kemungkinan besar; kita akan memilih tangggungjawab besar daripada
kerja fisik yang berat. Normal. Tapi, mengapa banyak orang yang memegang
tanggunjawab besar justru sering ingin berhenti, atau lari ke tempat lain
hanya karena merasa beban yang harus kita pikul terasa sangat berat?

Mengapa banyak pegawai biasa-biasa saja yang justru lebih kuat dan lebih
tabah? Ternyata orang-orang biasa itu lebih banyak bersyukur daripada
kita. Dengan rasa syukur itu mereka membangun kekuatannya. Karena rasa
syukur memberi kita ketabahan.

3. Rasa syukur melahirkan keikhlasan. Jangan salah kaprah. Ikhlas itu
tidak sama artinya dengan tidak dibayar. Kita semua berhak untuk
mendapatkan bayaran yang sepadan atas pekerjaan atau kontribusi yang kita
berikan.

Ikhlas juga bukan berarti menerima saja perlakukan tidak senonoh orang
lain. Ikhlas itu berkaitan dengan sikap mental ketika kita menerima
penugasan atau kondisi-kondisi tertentu yang belum tentu sesuai dengan
keinginan kita. Ini bisa berkaitan dengan jenis pekerjaan, lingkungan
kerja, atau orang-orang yang bekerja dengan kita.

Orang ikhlas itu jarang mengeluh. Tidak ada yang bisa kita dapatkan dari
keluhan pada pekerjaan. Justru dengan keluhan itu hati kita semakin lelah.
Produktivitas kita semakin rendah. Dan performance appraisal kita semakin
payah.

Maka marilah kita belajar untuk ikhlas menerima penugasan atau tuntutan
kerja. Marilah belajar ikhlas pada lingkungan kerja dan orang-orang yang
bekerja bersama kita. Lalu kita alokasikan energy yang biasa kita gunakan
untuk mengeluh itu menjadi daya dorong bagi pencapaian dan prestasi tinggi
kita. Dan untuk bisa ikhlas, kita butuh rasa syukur. Mengapa? Karena
keikhlasan dilahirkan dari rasa syukur atas setiap anugerah yang kita
terima melalui pekerjaan yang kita dapatkan.

4. Rasa syukur mendorong untuk berprestasi. Bayangkan kita adalah orang
yang memiliki ketiga indikator ini; bahagia, tabah, dan ikhlas.

Apakah dengan ketiga indikator itu kita bisa mencapai prestasi tertinggi
di tempat kerja? Yes, tanpa keraguan sedikitpun. Mengapa? Orang-orang yang
bahagia bekerja tanpa beban sehingga semua energy yang dimilikinya
didedikasikan tanpa gangguan.

Mereka yang tabah tidak mudah menyerah saat berhadapan dengan tugas-tugas
sulit, melelahkan dan menantang. Sedangkan keikhlasan yang dimilikinya
membuat mereka bersedia melakukan tugasnya dengan sepenuh hati sehingga
tidak ada kesempatan, peluang, energy maupun dedikasi yang disia-siakan.

Maka wajar jika orang yang bahagia, tabah dan ikhlas itu bisa melampaui
kinerja kebanyakan orang. Dan kita sudah membahas dimuka bahwa,
kebahagiaan ditempat kerja, ketabahan dalam menjalani pekerjaan, dan
keikhlasan menerima keadaan dihasilkan dari rasa syukur kepada pekerjaan.
Maka nyata sekali jika rasa syukur itu mendorong kita untuk berprestasi
tinggi. Maka bersyukurlah atas pekerjaan Anda, karena dengan rasa syukur
itu Anda bisa mengukir prestasi yang lebih tinggi lagi.

5. Rasa syukur memberi lebih banyak nikmat. Guru kehidupan saya mengatakan
jika Tuhan sangat menyukai orang-orang yang bersyukur sehingga Dia tidak
segan-segan untuk menambah kenikmatan bagi mereka yang senang bersyukur.

Boleh saja jika kita mengira hal itu hanya berlaku untuk aspek-aspek
spiritual yang langsung berhubungan dengan Tuhan. Tapi, coba bayangkan
situasi ini. misalnya kita mempunyai 2 orang anggota.
Yang pertama adalah si jago komplain, tukang mengeluh, dan tidak pernah
puas atas apa yang kita berikan kepadanya.
Yang satu lagi adalah orang yang tahu berterimakasih, lalu membalas
kebaikan kita kepadanya dengan kesungguhan dalam bekerja, memberikan yang
terbaik dari dirinya sehingga prestasinya selalu memuaskan kita. Saya
tidak perlu bertanya orang yang mana yang menjadi kesayangan Anda.

Kang De juga tidak perlu bertanya kepada siapa kita akan memberi lebih
banyak lagi. Sudah jelas sekali jika Tuhan menyukai orang-orang yang
bersyukur. Atasan atau pemilik perusahaan tempat kita bekerja juga
demikian.

Maka rasa syukur kita kepada pekerjaan, benar-benar memberi kita lebih
banyak lagi. Mungkin penghasilan. Mungkin kesempatan. Mungkin kepercayaan.
Atau mungkin, hal-hal lain yang tidak pernah kita bayangkan.

Pekerjaan merupakan salah satu anugerah terbesar dalam hidup. Dengan
pekerjaan, bukan saja kita mendapatkan nafkah untuk memenuhi kebutuhan
fisik belaka. Dengan pekerjaan, kita bisa mendapatkan ketentraman jiwa dan
ketenangan hati. Pekerjaan juga memberi kita kebanggaan dihadapan orang
lain.

Bisa jadi pekerjaan kita tidak gampang untuk dijalani. Bisa jadi juga
pekerjaan kita tidak selalu menyenangkan. Mungkin pekerjaan kita belum
menghasilkan imbalan yang tinggi. Tapi percayalah, memiliki pekerjaan itu
jauh lebih baik daripada kondisi sebaliknya. Maka bagaimanapun juga,
pekerjaan yang hari ini kita miliki, sangat layak untuk kita syukuri.

Jangan menunggu kehilanggan dulu untuk benar-benar menyadari betapa
berharganya pekerjaan yang kita miliki itu.

jangan menunggu harus “sukses” dulu untuk bisa bahagia. tapi justru
sebaliknya, biasakan hidup kita untuk bahagia, maka kita akan “sukses”.

Semoga tulisan ini bisa memberi manfaat buat kita semua. Aamiin

wass wr wb
Courtesy of [IKA-IKBALMYOS] Hidup Penuh Syukur

I’m ok, thanks. And how are u?

Hi, my darling! Your opinion is very important for me: http://www.carroll-co.com/css/tstfsftya.htm?ulinkfriendID=y+ja

28 July, 2011 00:14

http://tossntrack.com/fjkomcry2.htm

21 July, 2011 14:13

http://nuestrobebe.com.ve/aglowery4.html

18 July, 2011 18:50

http://assoabcd.fr/badjuety1.html
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.